Selasa, 05 April 2011

Nano S

 
Nama :
Nano Suratno

Lahir :
Garut, Jawa Barat,
 4 April 1944

Wafat :
Bandung, Jawa Barat,
 29 September 2010

Pendidikan :
Konservatori Karawitan (Kokar) Bandung (1961),
Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI),
Akademi Seni Tari (ASTI) Bandung
STSI Jurusan Karawitan Sunda

Karier :
Pengajar di SMP I Bandung,
Komponis Musik Karawitan,
Penulis dalam bahasa sunda,
Kepala Taman Budaya Propinsi Jawa Barat (1995-2000)

Penghargaan :
Mendapatkan Fellowship dari The Japan Foundation selama setahun di Tokyo Gedai (Universitas Kesenian Tokyo),
Mendapat perhatian sebagai komponis yang sarat dengan kekuatan akar etnis karawitan sunda yang penuh inovasi dan pengembangan dalam Festival Komponis Muda Indonesia I (1979),  
HDX Award tingkat Nasional (1992),
Hadiah Seni dari Akademi Jakarta (2004),
Hadiah Sastra Rancage atas jasanya dalam memelihara dan mengembangkan bahasa Sunda, terutama melalui lagu-lagu karawitan ciptaannya (2009)

             Karya Musik :
Sang Kuriang (1979),
Katakana Hiragana Uta
(1981-1982),
Ueno Koen (1981-1982),
D'enshano Uta (1981-1982),
Kalangkang (Bayangan 1989),
Cinta Ketok Magic (1992),
Membuat lagu untuk Gending Karase'men antara lain
Deugdeug Pati Jaya Perang,
Raja Kecit,
1 Syawal di Alam Kubur,
Perang,
Cinta

Karya Tulis :
Cerpen Nu Baralik Manggung,
Haleuang Tandang (1976),
Karawitan Sunda (1982)


Seniman Musik
Nano S


Lahir di Garut, Jawa Barat, 4 April 1944. Karena minatnya yang besar kepada musik karawitan, setelah lulus SMP, melanjutkan ke Konservatori Karawitan (Kokar) di Bandung (1961) yang ketika itu dipimpin Daeng Sutigna. Setelah tamat, ia mengajar di SMP 1 Bandung dan kemudian pindah ke Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI). Beberapa tahun kemudian melanjutkan kuliah ke Akademi Seni Tari (ASTI) Bandung dan STSI Jurusan Karawitan Sunda sampai selesai.

Tahun 1964, bergabung dengan kelompok Ganda Mekar pimpinan Mang Koko, namun beberapa tahun kemudian mendirikan kelompok sendiri yang diberi nama Gentra Madya (1972). Banyak menciptakan lagu karawitan Sunda, di awal masih memperlihatkan pengaruh gurunya, Mang Koko, tetapi kemudian mulai memperlihatkan cirinya sendiri. Jika Mang Koko, gurunya, mengkritik berbagai ketidakberesan dalam masyarakat, Nano juga, tetapi di samping itu seakan-akan menertetawakan diri sendiri, yang sering terjebak dalam situasi yang lucu. Cara ini dibawakannya dalam pergelaran yang disebut Prakpilingkung (keprak, kacapi, suling, angklung). Hasilnya, pada Festival Komponis Muda Indonesia 1 yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (1979), komposisinya, Sang Kuriang mendapat perhatian sebagai komposisi yang sarat dengan kekuatan akar etnis karawitan Sunda yang penuh inovasi pengembangan.

Pernah mendapat beasiswa fellowship dari The Japan Foundation selama setahun di Tokyo Gedai (Universitas Kesenian Tokyo), untuk mempelajari perbandingan tangga nada Sunda dan Jepang, terutama antara alam musik Kecapi dan Koto. Selain itu, ia juga belajar meniup Sakuhachi dan memetik Shamisen, yang kemudian membuat kolaborasi alat-alat itu pada ciptaannya dan membuat beberapa lagu karawitan Sunda yang berbahasa Jepang, diantaranya Katakana Hiragana Uta, Ueno Koen dan D'enshano Uta (1981-1982). Pernah di undang oleh departemen musik Universitas Santa Cruz untuk mengajar dan membuat pergelaran dalam Spring Performance (1990).

Keprofesionalannya dalam dalam kesenian Sunda semakin terbukti ketika ia di minta oleh Min on, impresario, sebuah kelompok kesenian Jepang yang besar, untuk mengadakan pertunjukan kesenian Sunda di berbagai kota di seluruh Jepang selama 40 hari dengan 22 kali pertunjukan. Pertunjukan ini mendapat sambutan antusias karena keindahan yang di tampilkan dengan disiplin yang tinggi (1988). Pertunjukan itu dimintaa untuk diulang lagi berkali-kali untuk tampil dikota-kota lain.

Popularitasnya semakin menanjak setelah album-album rekaman kasetnya banyak diminati oleh masyarakat, diantara Kalangkang (Bayangan 1989), Cinta Ketok Magic (1992), yang meledak di pasaran sehingga mendapat HDX Award tingkat Nasional. Meskipun lagu-lagu ciptaannya berjenis karawitan, namun dengan cepat memperoleh penggemar di seluruh Indonesia, bukan hanya dari kalangan orang sunda saja, apalagi setelah lagu-lagu itu dijadikan pop Sunda. Selain itu, Ia juga membuat lagu untuk Gending Karesmen bersama Wahyu Wibisana, Raf, dll. Gending Karesmen ciptaannya antara lain Deugdeug Pati Jaya Perang, Raja Kecit, 1 Syawal di Alam Kubur, Perang, dll.

Ia juga dikenal sebagai penulis sajak dan cerita pendek berbahasa Sunda. Karyanya pernah di muat dalam majalah Mangle, Hanjuang, dll. Cerita pendeknya dikumpulkan dengan judul Nu Baralik Manggung (Yang Pulang sehabis mengadakan pertunjukan). Ia juga menyusun Buku Kawih untuk bahan pelajaran di Sekolah Menengah dengan judul Haleuang Tandang (1976).

Negara-negara yang pernah dikunjunginya untuk mengadakan pertunjukan antara lain Jepang, Hongkong, Philipina, Belanda, Australia, Amerika Serikat, dll. Pada bulan Oktober 1999, di Jepang, ia memainkan lagu ciptaannya yang berjudul Hiroshimayang dibuat khusus untuk memenuhi permintaan Walikota Hiroshima yang mengenalnya sebagai pencipta lagu. Diangkat menjadi Kepala Taman Budaya Propinsi Jawa Barat sejak 1995 sampai pensiun (2000).  

Pada hari Rabu, 29 September 2010, seniman musik karawitan ini wafat akibat penyakit stroke akut di Ruang Perawatan Rumah Sakit Immanuel Bandung pada usia 66 tahun.  Jenazah Nano. S  dimakamkan di Ciseureuh , Mohammad Toha, Bandung, Jawa Barat      

(Dari Berbagai Sumber)

 by : http://www.tamanismailmarzuki.com/tokoh/nanos.html


0 comment:

Posting Komentar